Laweyan, kampung tua penuh cerita

bunker tua di Laweyan

Laweyan memang memiliki sejarah tersendiri. Banyak sejarah tercatat di kampung ini. Selain telah menjadi sentra industri batik sejak Pajang 1546 M. Laweyan memiliki sejarah sebagai pusat kegiatan ekonomi. Situs Bandar Kabanaran dan bekas Pasar Laweyan, membuktikan Laweyan sebagai kawasan perdagangan.

Keberadaan masjid tua, menunjukan Laweyan pernah menjadi kawasan penyebaran Islam. Masjid-masjid itupun hingga kini masih berdiri. Antara lain Masjid Laweyan, Langgar Merdeka, Langgar Makmoer.

Laweyan juga pernah menjadi kawasan pejuang dan raja. Di sini pernah tinggal Sutowijoyo/ Panembahan Senopati. Tak ayal jika bangunan Kota Gede di Yogyakarta mirip dengan Laweyan. Laweyan juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Kyai Ageng Anis, dia merupakan tokoh cikal bakal raja-raja Mataram.

Pada masa kolonial, Laweyan tercatat sebagai kebangkitan pedagang pribumi. Sebagai bukti, di kawasan ini pernah tinggal H. Samanhudi pendiri Serikat Dagang Islam. Salah satu pahlawan nasional bangsa Indonesia.

Bentuk kawasan dengan bangunan bertembok besar dan berhimpit, serta ruas jalan yang sempit, tentu bukanlah hal yang tidak sengaja. Besar kemungkinan ini terkait dengan pergerakan perjuangan warga Laweyan kala itu.

Sangat wajar jika Laweyan menjadi kampung pergerakan. Dengan keberadaan materi, tentu banyak warga yang mengeyam pendidikan. Suatu hal yang amat mahal kala itu. Kepintaran yang diperoleh pun, menjadikan warga Laweyan kritis terhadap persoalan yang ada. Maka, tidak heran jika warga Laweyan agak berjauhan dengan kaum birokrat waktu itu.

Sebagai kampung pergerakan, masih banyak bangunan Laweyan yang dapat dija dikan bukti sejarah. Sayangnya, bangunan Laweyan sedikit banyak telah berubah. Laweyan memiliki bentuk bangunan yang khas. Mayoritas rumah dikelilingi tembok besar dan regol yang besar. Bangunan rumah pun khas Jawa Eropa, tak jarang pula yang bernuansa Cina Islam.

Dulu, hampir tiap rumah memiliki pintu kecil. Pintu ini menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya. “ Dulu bisa blusukan antar rumah,” terang H. Achmad Sulaiman, pemilik rumah Batik Halus Puspa Kencana.Pintu kecil ini, menjadi alat silaturrahmi antar tetangga. Dengan demikian tali kekeluargaan antara warga pun semakin erat.

Selain itu, pintu ini mempermudah akses keluar masuk para warga, terutama jika ada kebakaran. Laweyan memang memiliki jalan yang sempit. Jarak antar rumah pun berhimpitan. Ini agak berbahaya. Satu rumah terbakar, dapat dengan mudah merembet ke rumah yang lain. Jalanan sempit juga menjadi penghalang masuknya mobil pemadam kebakaran.

Perlebaran jalan sempat dilakukan. Ini terlihat dari beberapa tanda bekas di beberapa ruas jalan. Tanda bekas tersebut, dulunya merupakan tembok batas rumah. Sekarang, walaupun masih sempit, pelebaran jalan sangat membantu akses masuk ke wilayah Laweyan. Terutama bagi armada pemadam kebakaran.

Pada jaman kolonial, pintu ini sangat berguna bagi kaum pergerakan. Jika ada operasi atau serangan ke Laweyan, maka pintu ini menjadi akses bagi kaum pergerakan untuk melarikan diri. Laweyan menjadi daerah yang aman untuk kaum pergerakan. Seluruh wilayah hampir dikelilingi tembok tinggi besar. Selain untuk menjaga keamanan pemiliki rumah, privasi pun sangat terjaga di Laweyan. “ Dulu, di jaman pergerakan. Dengan tembok yang tinggi, Laweyan sangat aman untuk pergerakan,” jelas Gunawan Muh. Nizar.

Rumah Laweyan kuno memang sangatlah unik. Satu kampung, memiliki bentuk yang hampir mirip. Pabrik-pabrik home industry yang besar, dan rumah bernuansa Jawa Eropa kuno menyiratkan Laweyan sebagai kawasan elite waktu itu. Maklum, kebanyakan yang tinggal di sana adalah juragan, walaupun tidak semuanya .“ Bikin KTP saja, cariknya yang dipanggil,” kenang Gunawan, yang juga pemilik Batik Putra Laweyan.

Bangunan di Laweyan memang eksotis nan elit. Namun dibalik itu, cukup banyak cerita dan rahasia yang belum terungkap. Ada beberapa bagian bangunan di Laweyan yang sengaja dikamuflasekan. Adapun salah satunya adalah bunker bawah tanah.

Bunker ini menjadi kamuflase karena keberadaannya yang rahasia. Keberadaannya hanya diketahui oleh pemilik rumah. Biasanya ditutupi dengan almari, meja, maupun dengan karpet. Karena begitu rahasianya, terkadang keberadaannya tidak diketahui oleh anggota keluarga yang lain, termasuk anak.

Bunker ini ada yang buntu dan ada yang tembus ke tempat lain. Bunker tembus ini tersambung dengan jalan bawah tanah. “Biasanya, bunker tembus menghubungkan satu sampai tiga rumah” jelas Alpha Febela Febriyanto, pimpinan Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan.. Malah, ada beberapa yang tembus ke kebon atau tanah latar. Jadi ada jalan bawah tanah di kawasan Laweyan. Sayangnya, banyak bunker ini yang sudah ditutup oleh pemilik rumah.

“ Menurut cerita leluhur, bunker buntu digunakan untuk menyimpan harta benda” imbuh Alpha. Suatu hal yang wajar, di masa itu bank memang sedikit. Sedangkan bunker tembus, digunakan untuk komunikasi yang rahasia. Tidak jarang digunakan untuk menitipkan atau memindahkan barang. Tukar informasi rahasia pun dilakukan lewat bunker tembus. Biasanya bunker tembus terdapat pada bangunan jawa yang sangat kuno. “ Mungkin bangunan yang sebelum abad 20,” jelas H. Sulaiman.

Saat ini, di Laweyan masih ada satu rumah yang masih memiliki bunker. Rumah ini milik Harun Muryadi. Ketika ditemui SAUDAGAR, Muryadi menjelaskan bahwa bunker ini merupakan peninggalan kerajaan Pajang. Jadi, keberadaan bunker lebih dulu ada daripada rumahnya.

Menurut Muryadi, bunker ini dibuat oleh Hangabehi Kertayuda, salah seorang abdi dalem kerajaan Pajang. Muryadi sendiri masih keturunan beliau. Rumah yang ditinggali Muryadi merupakan rumah warisan dari ayahnya, R Wilasdi Wiryosupatmo. “ Beliau adalah generasi ke-tujuh dari Hangabehi Kertayuda,” jelas Muryadi.

Selain bunker, rumah Muryadi juga dilengkapi atap rahasia. Dulu, atap ini berfungsi untuk bersembunyi dan mengawasi daerah sekitar. Keamanan memang hal yang sulit didapatkan waktu itu, apalagi pada masa PKI. Seringkali Muryadi bersembunyi di atap, ketika ada usaha PKI menculik warga.

Bunker di rumahnya merupakan bunker tembus. Bunker ini menghubungkan rumahnya dengan rumah di sebelah utara rumahnya, dan tembus ke pendapa dekat sungai. Pendapa ini pun, saat ini sudah roboh.

Menurut Muryadi, dulu bunker ini terkadang digunakan untuk pelarian. Pada jaman PKI Muso, beberapa tetangga terlibat pemberontakan PKI Muso. Walaupun bukan anggota PKI, tidak jarang bunker dipinjamkan untuk bersembunyi ketika ada operasi dari aparat keamanan. Hal ini dilakukan karena faktor kasihan. Namun, tindakan ini malah membawa bencana di kemudian hari. Akhirya, pada 1948 akses tembus ini ditutup. “ Kata Bapak karena perampokan” jelas Muryadi.

Perampokan memang kadang terjadi di lingkungan Laweyan. Tidak hanya pada warga yang kaya, tetapi juga warga yang kurang mampu. Ini terjadi karena kebiasaan menitipkan harta benda kepada orang kepercayaannya. Dan sialnya, terkadang informasi ini bocor. “ Mungkin ada orang dalam yang membocorkan,” jelas Muryadi.

Waktu itu, R. Wilasdi (ayah Muryadi) diisukan dititipi barang oleh H. Sapuan, salah seorang saudagar kaya waktu itu. Tak disangka isu ini membahayakan keluarga R. Wilasdi. Pertama, rumah di sebelah utara rumah kerampokan. Naasnya, para perampok menemukan bunker di rumah tersebut. Maka perampok pun dengan mudah masuk ke rumah R. Wilasdi. Ketika masuk rumah, para perampok mencoba mencari harta H. Sapuan. Namun hasilnya nihil, karena isu tersebut tidaklah benar. “ Bantal dan beras yang dibawa” cerita Muryadi.

Dikonfirmasi akan hal ini, Alpha mengakui belum ada penelitian atau pengkajian akan asal usul bunker. “ Jika bunker dan jalan bawah tanah ini kuno, memang benar adanya” jelas Alpha. Hal ini bisa dilihat dari material bunker. Selain itu, dapat dikaji dilihat dari bangunan rumah Muryadi yang masih kuno, yang hingga sekarang belum ada perubahan sama sekali. “ Bisa saja memang dari kerajaan Pajang” imbuh Alpha. Tetapi yang jelas, keberadaan bunker ini sangat membantu warga Laweyan di masa lalu. Selain untuk keamanan harta benda, juga membantu kegiatan pergerakan perjuangannya. Fikri.

~ oleh k3pl3h di/pada Juni 2, 2008.

Tinggalkan Balasan